Pengalaman di KJRI Jeddah : Surat Pengantar Cuti

Lagi-lagi, saya berhubungan dengan birokrasi KJRI Jeddah. Kali ini adalah dalam rangka rencana saya cuti. Waktu itu saya berencana cuti tanggal 4 Agustus 2012. Tiket pesawat menunjukkan bahwa saya akan berangkat ke Indonesia tanggal 4 Agustus 2012 pagi jam 4.

Sekitar 1 minggu sebelum keberangkatan ke Indonesia, saya mendapat kabar dari rekan kerja saya yang juga dari Indonesia, bahwa saya harus membuat semacam surat pengantar cuti di KJRI.

Berbeda dengan ketika mengurus paspor anak, saat ingin mengurus surat cuti ini, hati saya tenang, karena saya tidak “parno” lagi dengan birokrasi di KJRI Jeddah. Perngalaman pertama sangat baik, jadi selanjutnya saya berharap juga baik.

Karena kesibukan pekerjaan, saya baru bisa mengurus surat itu hari Rabu, 1 Agustus 2012. Saya kemudian langsung masuk ke loket bagian ketenagakerjaan, yang berseberangan dengan loket membuat paspor. Di tempat itu saya langsung mengambil formulir pendaftaran yang di dalamnya tertulis syarat-syarat pembuatan surat cuti tersebut. Waktu itu saya mengalami kesulitan mengisi formulir pada bagian “No. ID majikan terakhir”, saya bingung. Dalam hati saya bertanya, “emang majikan saya siapa? pake nomor iqama lagi,…”.

Mengetahui saya kebingungan, salah satu petugas, yang duduk di loket paling tengah langsung meminta fotokopi paspor saya dan menunjukkan “No ID” yang dimaksud, trus, ya sudah, gitu aja, beliau ndak minta bayaran walau sudah membantu saya, dan beliau ngobrolnya asyik-asyik saja. Ini jadi mengingatkan saya waktu sebelum mengurus paspor anak saya, kata orang di jalan, bahwa untuk mengisi formulir di KJRI, saya harus bayar. Padahal tidak sama sekali. Petugas KJRI, berdasarkan pengalaman saya sampai sekarang, bersedia membantu mengisi formulir dengan tulus, gratis.

Setelah saya masukkan seluruh syarat, petugas mengatakan bahwa surat akan jadi hari Sabtu tanggal 4 Agustus 2012. Saya kaget, karena saya harus ke Indo tanggal tersebut sebelum subuh. Akhirnya saya jelaskan kondisi saya. Alhasil, petugas berusaha membantu saya, akhirnya saya diperbolehkan untuk mengambil surat pengantar pada hari Kamis, tanggal 2 Agustus 2012, melalui Security di pintu depan.

Kamis, 2 Agustus 2012 saya ke KJRI, saya langsung parkir di depan KJRI dan menuju ke Security di pintu utama. Kali ini petugas Security-nya masih muda, kulit agak gelap dengan senyum menawan ( halah:mrgreen: ). Dengan ramah beliau menyapa saya “ada yang bisa dibantu, Mas?. Kemudian saya jelaskan kondisi saya dan Mas Security langsung “tunggu bentar ya, Mas, saya ambilkan dulu”.

Ketika menunggu Mas Security, datanglah seorang Bapak dengan mengendarai KIA yang saya lupa merk-nya, barangkali Cerato, beliau berhenti di depan gerbang. Beliau menyapa saya dengan ramah dan menanyakan kebutuhan saya di sana. Beliau adalah Pak Amar Ma’ruf, saya lihat di kartu nama beliau, ternyata beliau adalah konsul di bidang ekonomi. First impression, beliau adalah seorang yang ramah dan rendah hati. Ngomong-omong, dari Bapak Security beruban dan Mas Security yang gelap manis (emang kecap??:mrgreen: ) yang ramah dan sangat melayani, trus petugas di bagian paspor yang murah senyum dan petugas di bagian surat cuti yang tulus, sampai Pak Konsul yang ramah dan rendah hati….. orang-orang seperti mereka ini yang bikin hidup di Jeddah jadi nikmat.

Beberapa saat kemudian Mas Security datang membawa surat pengantar yang saya butuhkan. Kemudian saya langsung pamit pulang ke rumah. Alhamdulillah, semua lancar.

Jadi ini adalah sebuah kabar baik juga kepada rekan-rekan warga Indonesia di Jeddah dan sekitarnya, bahwa pelayanan birokrasi di KJRI Jeddah ini sudah terbukti baik dan bersih. Sekali lagi saya ingin menyarankan bahwa sebaiknya kita lebih berhati-hati dengan segala macam berita yang kita dapatkan dari manapun. Prinsip “katanya” tidak bisa diterapkan lagi. Kita harus selalu cerdas dalam menanggapi setiap berita yang ada. Budayakan klarifikasi LANGSUNG KEPADA YANG BERSANGKUTAN atau yang benar-benar berhak mewakili!!! Kita harus cari kebenarannya sendiri dengan penuh itikad baik dan pikiran yang cerdas, positif dan objektif. Jangan sampai sentimen/kebencian/persoalan pribadi seseorang terhadap sebuah instansi/kelompok membuat kita menjadi mudah terprovokasi.

Semoga hari anda menyenangkan dan diberkahi Allah SWT.
Aamiin

6 thoughts on “Pengalaman di KJRI Jeddah : Surat Pengantar Cuti”

  1. Kemarin pas ngurus paspor mo berangkat kesini juga isinya parno, tapi pas tak urus ternyata lancar2 aja sesuai prosedur. ^_^. Tapi belum pernah merasakan Kedubes RI di tokyo, ada teman yang merasakannya, dia bilang budaya molor (seharusnya bukan loket dibuka jam 9, tapi petugasnya belum datang) masih ada, meskipun mereka bekerja di negara disiplin (jepang).

  2. bgn mas sayapun mau bertanya,tuk yg cuti atau yg nau balik lg kesini,katanya hrs minta pk ke kbri agar tak ada hambatan dibandara diindonesia tuk balik lagi dan apakah mas cukup diberi surat cuti dr kbri dan bisa balik lg kesini ,tak ada hambatan maksudku.trims

  3. Adakah warga indonesia yg tinggal di jeddah bisa membantu saya?,,ibu saya sakit ketika umroh dan sekarang beliau sendrian d rs jeddah..pihak travel selama ini masih membantu..hanya krn kesibukan mereka tidak selalu memberi info….ibu saya udah tua dan tidak memegang hp …saya hanya memohon kepada warga indonesia yg berbaik hati untuk menolong ..melihat ibu saya dan mengabarkan keadaannya..krn saya yakin dia pasti bingung dan tidak harus berbuat apa..krn jika beliau telah sembuh biar pihak travel memulangkannya ke indonesia….ini contact saya. Jika ada yg terketuk membantu saya…nawang sari }[+62857-7027-7774 terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s