Ibu Rumah Tangga dan Pola Pikir Sarjana

Jadi kali ini ceritanya seperti ini, ada seorang sarjana putri yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja setelah menikah. Dia ditanya oleh temannya selama kuliah dulu, yang sekarang sudah bekerja, “Eh, Jeng, kamu kok nggak bekerja? Trus buat apa dulu kuliah capek-capek dan lama?”. Kemudian sang ibu rumah tangga menjawab yang intinya, “seorang sarjana yang menjadi ibu rumah tangga itu memiliki pola pikir yang lebih dari sekedar lulusan SMA”.

Cerita di atas adalah cerita klasik sebenarnya. Yang menarik dari yang disampaikan di atas adalah bahwa sang ibu rumah tangga benar-benar memberi kesan bahwa seorang sarjana selalu mempunyai pola pikir yang lebih baik dari lulusan SMA.

Bagi saya, ini lucu sekali dan kurang tepat. Bill Gates saja, yang menjadi pemimpinnya para sarjana di perusahaannya, ternyata bukan seorang sarjana. Sementara ada banyak sarjana yang akhirnya jadi pengangguran, masih terlalu banyak merepotkan orang tua, cemen, bodoh dan tidak mandiri. Jadi pola pikir seperti apa yang dimaksud oleh ibu rumahtangga yang sarjana tadi?

Diakui atau tidak, terkesan sekali bahwa sesungguhnya banyak sarjana itu kuliah hanya mengejar gelar dan status sosial di lingkungan yang ternyata masih feodal saja, “ajining raga ana ing busana“. Masih banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di universitas hanya agar pada undangan pernikahannya bisa dituliskan gelarnya, agar di masyarakat yang masih cukup feodal tadi, keluarganya menjadi keluarga yang terpandang. Jadi menjadi sarjana sebenarnya masih banyak yang bukan karena esensinya.

Mungkin ada benarnya bahwa pola pikir sarjana memang cukup menarik, tapi untuk kemudian mengeneralisir dengan pernyataan general seperti itu tidaklah tepat. Bagi saya, jawaban yang lebih baik, atau katakanlah : aman, untuk dikatakan adalah “saya menjadi ibu rumah tangga karena ini adalah pilihan saya, saya ingin mendidik anak saya secara khusus agar kelak anak saya menjadi anak yang outstanding. Saya ingin memberikan perhatian lebih, yang tidak bisa diberikan wanita-wanita karir, kepada anak saya, karena anak adalah aset yang sangat penting. Tentang kenapa saya harus sarjana, karena itu adalah bagian dari impian saya, karena setiap manusia berhak dan wajar mempunyai impian untuk dirinya sendiri, itu saja”.

Bagaimana menurut anda? Ini adalah pendapat pribadi saya saja, dan setiap orang berhak mempunyai pendapatnya masing-masing.

Manapun jalan yang anda pilih, tidak masalah, tetapi yakinkanlah pada diri anda bahwa yang anda pilih adalah karena ada esensi penting yang anda yakini adalah lebih baik di sisi Allah SWT. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan keberkahan kepada kita semua,..
aamiin

8 thoughts on “Ibu Rumah Tangga dan Pola Pikir Sarjana”

  1. saya salah satu sarjana yang memutuskan untuk tidak bkerja stlah mnikah,,
    alsan saya hanya ingin benar2 mengabdi dan urus suami dan anak, wlpun saat ini blom pnya anak,,,heu
    tapi ada satu nasehat guru saya dulu di SMA yang slalu terngiang, bahwa kata beliau perempuan itu harus pintar dan bijak, karna itu diperlukan dalam mendidik anak,,,
    jadi, gak ada rugi nya kok kuliah, wlpun akhirnya menikah dan tidak bkerja,,,

  2. Idealnya wanita telah menikah baiknya menjadi ibu rumah tangga karena itu bukanlah hal yang mudah, bayangkan saja segudang keahlian harus dimiliki bagi seorang ibu RT minimalnya menjadi manager keuangan, koki, pendidik yang handal, penasehat, motivator, dokter, dll deh. Namun, menjadi Ibu rumah tangga atau tidak itu tergantung kondisi, bersyukurlah bagi mereka yang bersuamikan mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga jika tidak apakah seorang ibu harus diam saja ketika kebutuhan tak tercukupi. Alangkah Luarbiasa jika seorang ibu yang “double job” mampu meng-handle antara karir dan RT dengan baik….

  3. Assalamualaikum,, ga sengaja nemu artikel lama nya teteh,, kenalin aku indah,aku kls 12 SMA. aku mau sharing n minta pemdapat dr sudut pandang teteh yah,,

    Wktu mama papa aku nikah, kondisi keuangan mereka bnr2 blm mapan, mama aku dokter gigi,pas abis lulus koas, mama nikah. Papa aku kerja kantoran biasa, dngn gaji minim. Wktu itu mereka msh tinggl sm oma opa aku, papa aku dibeliin mobil sama opa, pkokny wktu itu kondisi keuangan kluarg bnr2 m’hruskan mama aku krja. Pas aku umur 4 thn,adik aku lhr,kantor papa aku bangkrut dan papa aku di PHK, disini keadaan keuangan kluarg full bergantung sm mama aku, mama aku malah hrs tambah jam krja, pagi-sore di puskesmas, malem praktek di klinik,, smntr papa aku cm dpt penghsln dr bantu2 proyek org,, dan itu ga tetap. Pernah sebulan ga ada pnghsln sm skali.

    Krna mamaku kerja smpe malem, aku sama adik aku drmh,sekolah dianterin kadang pembantu,tante atau oma. Aku sm adik juga kadang2 dititipin di rmh tante.

    Kejadian kyk gtu terus slama aku SD.wkt aku kls 5, mamaku dpt ksmptan buat lanjut S2 Spesialis. Disitu mama aku bnr2 sibuk bngd,kerja,kul dan ngurus rmh.. krna pnghasilan papaku blm bisa nutupin smw kbthn kluarga.

    Mama lulus S2 spesialis pas aku SMP,, saat itu, papa alhamdulilah udh kerja kantor lg, dy krja buat bag. kegiatan operasional. Alhamdulilah biarpun ga bnyk ada penghsilan sedikit yg ttap,,wktu itu papa bisa ganti mobil, tp mobilnya 80% uang mama,atas nama mama.

    Semakin kesini,pas aku SMA..alhamdulilah perusahaan papa berkembang,, papa bisa sedikit2 dapet klien prospektif dan skrng dy jd direktur operasional dan pnya kpmilikan 52% saham kantornya.

    Alhamdulilah krn papa udh bisa menuhin kbutuhan kluarga,, mama aku pengen skolah lagi. Thn 2011 mama ambil magister rmh skit di UI (tgl 28 bln kmrn alhmdulilah wisuda).
    Skrng.. alhamdulilah kita bener2 cukup, .mulai thn 2011an papa bisa setahun 2-3 x ajak kita liburan ke luar kota/ negri. Dan mama aku,, dy ngelanjutin ambisi dan impian nya yg belasan thn ketunda. Dy sering ikut seminar2 & pelatihan ke luar kota dan negri. Mama aku bisa wujud in ambisiny,,pake uang sndr ke thailand, hongkong, new zealand ..td pagi mama brangkat ke jepang buat pelatihan 1 minggu. Dan papa aku dukung dan ngijinin.
    Yah,mungkin ini rejeki dr Allah buat mama aku yg dulu udh ikhlas dan sabar dampingin keluarga disaat papa aku ga pnya penghsilan.

    Alhamdulilah aku sm adik aku ga jd anak yg rusak krn kurang perhatian mama dr kecil. Biarpun mama sibuk, malem2 mama ttep bantuin aku bikin PR..

    mungkin kondisi di keluarga ku agak beda, mama aku lbh berpendidikan tinggi dr papa aku.
    Aku mw tanya..mnrt teteh, klo penghasilan keluarga 80% bergantung sm istri, apa ttep istrinya hrs jd ibu rumah tangga? dan Apa dengan mama aku ngejar impiannya lanjut kuliah magister dan sering seminar ke luar negri,, itu mengurangin pahalanya sbg seorang ibu?

    Makasi teteh..

    1. Eh yg nulis artikel ini cowok yah? Hahaha.. maaf yah kak, aku kira cewek,, abisan yg sering nulis2 artikel kyk gini kebanyakan cewek.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s