Bermimpi, salahkah ?

Beberapa orang men-share mimpinya ke dunia maya, facebook, twitter, blog dan lain sebagainya. Salah kah?
Tergantung.
Tergantung niatnya, dan ini hanya dia dan Allah saja yang tahu tentang apakah dia men-share mimpinya itu untuk memberi semangat pada dirinya sendiri, atau hanya sekedar pamer, menunjukkan pada dunia bahwa dia hebat karena punya mimpi. “hebat karena punya mimpi”, iya, emang akhir2 ini mempunyai mimpi sedang nge-trend. Dan karena ini hanya dia dan Allah yang tahu, maka sebaiknya kita ndak usah banyak komentar dan mengurusi mimpi orang lain. Ini karena urusan mimpi adalah urusan masing-masing.

“Bermimpi”, akhir-akhir ini nge-trend karena sedang maraknya seminar-seminar motivasi, film-film motivasi dan buku motivasi. “The Secret” adalah sebuah contoh buku yang melandasi dan menjadi sebab kenapa “bermimpi” akhir-akhir ini menjadi suatu trend yang keren, karena keren, sebagian orang menge-share-nya di jejaring sosial, agar dia terlihat keren atau mungkin agar dia malu jika dia tidak berhasil mewujudkannya, dan ini berarti “menge-share mimpi” berarti penyemangat.

Haruskah mimpi divisualisasi/dituliskan?
Harus.
Mengapa?
Karena mimpi itu ibarat visi dan misi bagi sebuah organisasi, dan manusia adalah tempatnya lupa, jadi mimpi harus dituliskan, harus divisualisasikan, agar manusia tidak lupa tentang apa yang sebenarnya dia ingin raih, dan agar usaha demi usaha yang dilakukan bisa senantiasa terkontrol dan mengarah pada peraihan mimpi.

Haruskah menge-share mimpi?
Tergantung situasi dan kondisi.
Seperti halnya sebuah organisasi, visi dan misi harus diketahui oleh setiap anggotanya. Mimpi organisasi harus diketahui dan dipahami oleh setiap anggotanya. Organisasi lain tidak perlu tahu sebenarnya, karena malah justru bisa mengganggu kinerja, karena organisasi lain tidak selalu suka dengan visi dan misi organisasi kita. Visi dan Misi organisasi harus di-share kepada dosen pembina organisasi, karena dosen pembina mencintai organisasi tersebut dan beliau bisa membantu pencapaian mimpi (visi dan misi) organisasi tersebut.

Menganalogi organisasi tersebut, manusia sebaiknya menuliskan mimpinya dengan lantang, mengingatnya setiap hari, akan tetapi manusia sebaiknya juga berhati-hati dengan mimpinya. Bagilah mimpi tersebut pada orang-orang tertentu yang kemudian bisa membantu terciptanya mimpi tersebut, bagilah mimpi tersebut kepada pasangan kita yang mencintai kita agar kita mendapatkan semangat lebih. Akan tetapi, berhati-hatilah dan berbijakhatilah, karena tidak semua orang harus tahu tentang mimpi kita.

Tetaplah bermimpi dan berusaha mewujudkannya,…
Semoga Allah senantiasa memberkahi,..
aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s