Category Archives: Tentang Islam

Keharusan Sholat Fardhu Secara Berjamaah

Oleh : Ustadz Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Semoga Allah memberi mereka taufiq terhadap segala hal yang mengandung keridhaanNya, dan semoga Dia menghimpunku dan mereka dalam himpunan orang-orang yang takut dan bertaqwa kepadaNya. Amin.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, waba`du. Continue reading Keharusan Sholat Fardhu Secara Berjamaah

Advertisements

Persiapan Teknis dan Non Teknis Bagi Calon Jamaah Haji

Oleh : Ustadz Abdullah Haidir

Musim haji kembali tiba, banyak kaum muslimin yang telah bersiap-siap menunaikannya. Sekedar sharing, saya ingin menyampaikan beberapa point yang patut dipersiapkan, baik yang bersifat teknis, maupun non teknis. Continue reading Persiapan Teknis dan Non Teknis Bagi Calon Jamaah Haji

Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya.

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya.

Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya.

Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya.

Ketika orang mengadu kau bertanggungjawab, itulah repotnya.

Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu di sini, mendirikan imperium kebenaran.”

~ Ustadz Rahmat Abdullah” ~

Aku Rindu Dengan Zaman Itu…

Aku Rindu Dengan Zaman Itu…

Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan

Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan

Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan

Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan

Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan

Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su’udzon atau menjatuhkan

Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini

Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan

Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan

Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya

Aku rindu zaman itu,..

Aku rindu…Ya ALLAH,..

Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami…

Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama…
~ Ustadz Rahmat Abdullah ~

Keutamaan Berdakwah

Allah SWT, melalui Qur’an, berfirman dalam surat Al Fussilat(41) ayat 33 :
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?””

Melalui ayat di atas kita dapat memahami bahwa perkataan yang terbaik di hadapan Allah SWT adalah perkataan orang yang menyeru kepada Allah SWT, perkataan orang dalam berdakwah.

Ini membuktikan bahwa betapa penting dan baiknya dakwah bagi manusia di hadapan Allah SWT. Jika amalan-amalan seperti puasa, sholat wajib dan sholat malam hanya ber-efek pada diri sendiri, maka lain halnya dengan dakwah, yang bertujuan untuk mengajak diri sendiri dan orang lain menuju jalan yang dibenarkan Allah SWT. Impact dakwah lebih kentara daripada amalan-amalan pribadi, karena seorang yang berdakwah harus mempertanggungjawabkan apa yang diserukannya/dikatakannya, da’i harus melakukan apa yang dia serukan/katakan. Seorang da’i mempunyai tanggungjawab moral lebih dibandingkan dengan orang biasa yang melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri.

Dakwah mempunyai beberapa keutamaan, di antaranya :
1. Dakwah sebagai nikmat dari Allah SWT –> kenikmatan dinilai sebagai yang terbaik di hadapan Allah
2. Dakwah adalah sebaik-baik amal –> sesuai ayat yang disebutkan di atas
3. Dakwah adalah tugas pokok Rasulullah –> suatu kehormatan jika kita bisa melanjutkannya
4. Kehidupan yang Diridhai Allah SWT –> dakwah di jalan Allah SWT sama saja dengan berjihad di jalannya, jika tulus, ini adalah satu tiket ke surga

Dengan adanya ridha dari Allah SWT ketika kita berdakwah, maka kehidupan kita akan menjadi berkah, yaitu :
1. Hidup yang diridhai Allah
2. Hidup dengan limpahan cinta dari Allah
3. Hidup yang dirahmati Allah
4. Hidup dengan perolehan pahala yang tak terputus
5. Hidup dengan perolehan pahala yang berlipat ganda

Dakwah adalah sesuatu yang indah. Akan tetapi kadang beberapa orang lupa tentang kaidah dakwah yang sebenarnya, yaitu menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Semoga kita semua mampu menjadi penggerak-penggerak dakwah yang benar-benar mengerti dengan kaidah dan keutamaan dakwah, sehingga Allah ridha kepada kita, dan kehidupan kita pun menjadi penuh berkah. aamiin

Dalil dakwah lainnya : QS 3:104, 16:97, 79:27-28, 5:67, 34:28, 3:31, 21:107.

Al Wala’ wal Bara’

Tinggal di negara yang berlandaskan syariat Islam, bukan berarti kita bisa lengah terhadap peluang-peluang bermaksiat. Ini semua harus dikembalikan ke diri masing-masing. Negara hanya menjalankan fungsinya secara global, tapi tidak mampu menjaga warganya secara intensif satu per satu. Maka kesadaran akan keberadaan Allah SWT adalah suatu keharusan. Kesadaran ini, yang berarti bahwa kita telah memahami makna ilah, makna Tuhan yang sebenarnya, harus mampu menggerakkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam tingkah laku. Kesadaran ini akan mengarahkan kita kepada kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki, inshaAllah.

Dua kalimat syahadat adalah bukan sekedar kata-kata, di dalamnya mengandung konsekuensi yang harus disadari. Dua kalimat syadahat ini terdiri dari “Laa ilaaha illallah” dan “Muhammadan Rasulullah”.

“Laa ilaaha illallah”, terdiri dari kata “laa” yang berarti “tidak” yang mengandung makna penolakan terhadap “ilaaha” yang berarti “tuhan-tuhan palsu” seperti patung-patung, pepohonan dan bahkan uang, sesuai dengan perlakuan yang disebutkan dalam makna ilah. Juga terdiri dari kata “illa” yang bermakna mengukuhkan bahwa “Allah”merupakan Tuhan kita sebenarnya.

“laa illah” merupakan sebuah wujud “Al Bara'”, yaitu pelepasan diri. Ini mengandung makna bahwa seseorang yang melakukan ini harus melakukan 4 hal, yaitu :
1. Mengingkari (al Kufru)
2. Memusuhi (al Adaawatu)
3. Memisahkan diri (al mufaasholatu)
4. Membenci (al Bughdhu)
Dimana keempat perlakuan tersebut mengarah pada “al Hadamu”, yang berarti penghancuran, penghancuran terhadap tuhan-tuhan palsu.

“illallah” merupakan sebuah wujud “al wala'”, yaitu kesetiaan/loyalitas. Ini mengandung makna bahwa seseorang yang melakukan ini harus melakukan 4 hal, yaitu :
1. Menaati (ath Thoatu)
2. Membela (an Nushratu)
3. Mendekatkan diri (al Qurbu)
4. Mencintai (al Machabbatu)
Dimana keempat perlakuan tersebut mengarah pada “al Binaa u”, yang berarti pembangunan, pembangunan terhadap Iman dan Takwa kepada Allah SWT.

“al Hadamu” dan “al Binaa u” ini harus dilakukan dengan dasar “al ikhlashu”, keikhlasan.

“Muhammadan Rasulullah”, merupakan pedoman dalam melaksanakan konsekuensi “laa ilaaha illallah”, yaitu “al wala'” dan “al bara'” tadi. Pedoman pelaksanaan ini mempunyai unsur utama antara lain :
1. Allah sebagai sumber nilai
2. Rasul sebagai sumber suri tauladan untuk setiap pelaksanaan peribadahan
3. Orang-orang beriman sebagai pelaksana.
Ini artinya, tentang bagaimana cara melaksanakan “al wala’ wal bara” dalam kaitannya dengan “laa ilaaha illallah”, kita (sebagai orang yang beriman) harus mengikuti semua yang diajarkan oleh Rasulullah SAW atas dasar ketentuan Allah SWT.

Sebagai salah satu contoh, ketika masa pertama Rasulullah menerima wahyu, di Makkah, beliau melaksanakan ibadah di ka’bah, padahal waktu itu di sana banyak sekali berhala. Rasulullah tidak langsung menumpas berhala tersebut, melainkan menunggu waktu yang tepat, berhijrah ke Madinah terlebih dahulu untuk menyusun kekuatan, kemudian kembali ke Makkah (dalam peristiwa Fathul Makkah) untuk menegakkan Islam secara penuh dan menghancurkan berhala-berhala itu. Ini bisa di analogikan dengan situasi sekarang di Indonesia, kita tidak bisa semerta-merta menegakkan Islam secara instant, karena kekacauan bisa terjadi dan imbasnya image Islam menjadi buruk, tapi sebaiknya penegakan Islam ini dilakukan dengan bertahap, pembinaan yang intensif dan terprogram. Jika kekuatan dan kualitas kepahaman terhadap indahnya Islam dalam masyarakat Indonesia ini sudah kuat, saat itulah kita menegakkan Islam bersama-sama.

Semoga Allah SWT selalu memberkahi rekan-rekan semuanya,…
aamiin

Konsep Tuhan (Ilah)

Secara kata, “Ilah” artinya adalah Tuhan. Memahami konsep Tuhan ini, bisa dilakukan dengan menelusuri dua kata, yaitu “Mempertuhankan” dan “Tuhan”.

1. Mempertuhankan (ya’lahu)
Ketika kita mempertuhankan sesuatu, maka kita setidaknya harus melakukan 4 hal berikut ini :
a. Merasa tenang dengan keberadaanNya
b. Berlindung kepadaNya
c. MerindukanNya
d. MencintaiNya
Mempertuhankan sesuatu, yang berarti melakukan 4 hal di atas, mempunyai konsekuensi yaitu penyembahan atau peribadahan. Ketika seseorang melakukan Peribadahan, maka seseorang harus melakukan beberapa hal, antara lain :
a. MencintaiNya dengan sempurna
b. Merendahkan diri di hadapanNya
c. Menundukkan diri dengan sempurna di hadapanNya.

2. Tuhan (ilah)
Kata “Tuhan” berarti empat hal :
a. Yang Diharapkan
b. Yang Ditakuti
c. Yang Diikuti
d. Yang Dicintai
Empat hal di atas dapat dirangkum menjadi sebuah kata, yaitu Al Ma’bud (Yang Diibadahi/Yang Disembah), yang berarti :
a. Yang layak diberikan loyalitas
b. Yang wajib ditaati
c. Yang wajib diberikan otoritas atas segalanya

Tuhan yang satu-satunya, yang benar adalah Allah SWT, maka kita harus memposisikan Allah SWT sesuai dengan konsep “Mempertuhankan” dan “Tuhan” yang sudah termaktub dalam dua poin utama di atas.

Ketika kita melakukan dua poin utama di atas pada selain Allah SWT, maka kita menuhankan hal lain selain dariNya. Sebaliknya, ketika kita tidak memposisikan Allah SWT sesuai dengan dua poin utama di atas, maka kita sesungguhnya tidak menganggap Allah SWT sebagai Tuhan kita. Maka dari itu, kita harus senantiasa mengkaji dan menjaga kualitas penghambaan kita kepada Allah SWT.

Dalil : QS 10:7 – QS 72:6 – QS 7:138 – QS 2:165 – QS 2:186 – QS 21:90,91 – QS 8:2 – QS 109:1,2,3,4,5,6 – QS 2:21 – QS 7:196