Category Archives: Semacam Sajak

Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya.

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya.

Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya.

Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya.

Ketika orang mengadu kau bertanggungjawab, itulah repotnya.

Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu di sini, mendirikan imperium kebenaran.”

~ Ustadz Rahmat Abdullah” ~

Advertisements

Aku Rindu Dengan Zaman Itu…

Aku Rindu Dengan Zaman Itu…

Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan

Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan

Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan

Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan

Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan

Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su’udzon atau menjatuhkan

Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini

Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan

Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan

Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya

Aku rindu zaman itu,..

Aku rindu…Ya ALLAH,..

Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami…

Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama…
~ Ustadz Rahmat Abdullah ~

Yaa Rabb, betapa kami sangat iri

Rabi'ah Al Adawiyah, Egypt July 2013

(sebuah surat cinta untuk saudaraku yang berjuang di Rab’ah Al Adaweeyah, Kairo, Mesir)

Wahai kalian yang dimuliakan Allah
Wahai kalian yang berjuang di jalan Allah
Tahukah kalian bahwa dengan hati kalian yang bersih, maka sesungguhnya kalian berada ditempat terdekat dengan Allah?

Kalian setulus hati memberikan segenap jiwa-raga kepada Allah..
Kalian berkumpul-bergerak agar tegak kejayaan Dinullah..

Kalian tahu dan sadar bahwa musuh ada di sekeliling kalian,
Tapi kalian juga tahu dan sadar, bahwa kematian bukanlah akhir sebuah perjalanan…
Justru, bagi kalian itu adalah keberkahan,..

Wahai Saudaraku yang sedang berjuang di Rab’ah Al Adaweeyah, Mesir…
Kalian sedang melawan tirani!
Kalian sedang berjihad!
Dan ketika kami lihat kalian masih terjaga dalam amalan-amalan sholeh, Yaa Rabb, kami iri sekali,…
Apalagi ini adalah bulan Ramadhan yang suci…
Sungguh, kami tidak bisa bayangkan betapa besar keutamaan yang telah kalian dapati..

Wahai saudaraku yang sedang berjuang menegakkan keadilan dengan hati,..
Doa kami selalu mengiringi,..
Lanjutkanlah tugas suci ini,…
Semoga Allah SWT selalu melindungi,…

Allahu Akbar!!!

Dini hari, Jeddah, 1 Agustus 2013

Impian yang Tak Pernah Padam

selembar daun melambai memberikan isyarat
berat
lagi melambangkan penat

seorang anak kecil berjalan merasa tersendat
karena waktu ternyata tidak membiarkan dia lewat
walau sekelebat

dia berdiam diri
dia bingung dan merasa sepi
berhari-hari

dan

pagi itu dia berjalan menuju pengunungan
ditentengnya sekeranjang harapan di tangan sebelah kanan
apa yang hendak dia kerjakan?

aku heran

= Jeddah, 12 June 2012 =

Sebotol Air

seperti sebotol air di antara pepasir
engkau tenang mengalir

tanpa pamrih
engkau sampaikan beribu kasih

saat itu aku sedang berjalan pada gurun tak berujung
aku bingung
linglung
langkah ku pun mulai terasa tanggung

hanya tatapan kosong
dalam ruang luas tak terbatas

aku benar-benar berfikir
mungkin musnah aku sudah
melihat dunia yang semakin kikir
aku sungguh merasa lemah

lalu engkau datang dengan senyuman
sebotol air yang kuteguk dalam pelukan
mengalir dan sangat menyejukkan

maka pada akhirnya
semua kembali terang

………………………………………………

Jeddah, 11 June 2012

Mawar

tahukah kau dunia itu seperti apa?
dunia itu seperti padang pasir
panas
gersang
monoton
hanya ada satu warna

sepi
dan menakutkan

hingga akhirnya tumbuhlah setangkai mawar
dia merah yang menandakan keberanian
seakan berteriak membuat gemuruh
memecah kesunyian padang

dia wangi
dia indah
dan dia juga punya duri yang menyadarkan
menyadarkan sehingga semua orang tahu bahwa dia punya harga diri
tinggi
dan suci

kemudian padang gurun yang monoton ini menjadi hidup
perlahan
membuka kedamaian pada setiap suasana
indah
dan menjamah

dan mawar itu bernama Sonia
dia luar biasa
dia istriku
dan aku mencintainya

= Jeddah, lupa tanggalnya,… =

I kinda feel so “poetry” these days 🙄

Cinta

daun melambai tanpa suara
sunyi
tanpa ekspresi

hati

tanpa sadar daun itu patah dan terjatuh
tidak ada yang menyangka
semua orang mengira dia telah runtuh
tapi siapa yang mengira?

dia jatuh karena dia patuh
dia jatuh karena jiwanya luruh
dia jatuh karena justru menginginkan sesuatu yang lebih utuh

tumbuh

satu daun yang dulu terjatuh
darinya muncul benih-benih baru dengan jiwa-jiwa yang merdeka
yang menyelami dunia dengan penuh sukacita
yang mengubah dunia menjadi penuh warna

cinta

Jeddah, 5 Juni 2012